mencintai angin harus menjadi siut mencintai air harus menjadi ricik mencintai gunung harus menjadi terjal mencintai api harus menjadi jilat mencintai cakrawala harus menebas jarak mencintaiMu harus menjadi aku Pada Suatu Hari Nanti pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi tapi dalam bait-bait sajak ini kau takkan kurelakan sendiri pada suatu hari nanti suaraku tak terdengar lagi tapi di antara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati pada suatu hari nanti impianku pun tak dikenal lagi namun di sela-sela huruf sajak ini kau takkan letih-letihnya kucari Hujan Bulan Juni tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu Hatiku Selembar Daun Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput Nanti dulu, Biarkan aku sejenak terbaring di sini Ada yang masih ingin kupandang yang selama ini senantiasa luput Sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi Dalam Diriku dalam diriku mengalir sungai panjang darah namanya… dalam diriku menggenang telaga darah sukma namanya… dalam diriku meriak gelombang suara hidup namanya… dan karena hidup itu indah aku menangis sepuas-puasnya… Air Selokan "Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung ia hampir muntah karena bau sengit itu. Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati. Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu: "Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu alangkah indahnya!" Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.Tentang Matahari Matahari yang di atas kepalamu itu adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu waktu kau kecil, adalah bola lampu yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat yang teratur kau terima dari sebuah Alamat, adalah jam weker yang berdering sedang kau bersetubuh, adalah gambar bulan yang dituding anak kecil itu sambil berkata : "Ini matahari! Ini matahari!" Matahari itu? Ia memang di atas supaya selamanya kau menghela bayang-bayanganmu itu. Yang Fana Adalah Waktu Yang fana adalah waktu. Kita abadi: memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa. "Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu. Kita abadi.Perahu Kertas Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan. "Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu. Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya, Aku Ingin Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada |
Pinarak... ^_^
Monggo Pinarak... ^_^
Minggu, 06 Februari 2011
Puisi "Sapardi Djoko Damono"
Langganan:
Postingan (Atom)
